Google
 
Showing posts with label Articles. Show all posts
Showing posts with label Articles. Show all posts

Wednesday, April 18, 2007

Barometric Pressure


This is part 1 of a series of articles on the theories of the different factors which produce good and bad fishing conditions. The theories aren't necessarily mine, although I've attempted to provide a thoughtful summary of information I have researched, with some modification based on personal experience.

I'm not entirely convinced that you should solely base your decision on whether to go fishing, on the measurement of the positive or negative factors based on theory. Although a number of the positive factors may indicate that the fishing will be good at your regular spot, I think to a large degree that the negative factors mean that you have to find and catch the fish in a different fashion than you would normally.

Barometric Pressure

The effect of barometric pressure on fishing feeding activity is one of the more interesting theories. In short, the theory proposes that a dropping air pressure brings on feeding activity, rising pressure turns the fish off feeding, high pressure results in the fish moving to shallower water, and low pressure results in fish moving to deeper water. This article will provide an overview on barometric pressure, summarize various theories about why atmospheric pressure affects fishing activity, and then summarize in tabular fashion the generally accepted fish behaviours with various barometric patterns.

Barometric pressure is the measure of the weight of the atmosphere above us. A barometer is used to measure air pressure. The earliest barometer consisted of a glass vacuum tube inserted into a container of mercury which was exposed to the pressure of the air. Increased air pressure would force the mercury up the tube in a height proportunal to the pressure. The height was measured in inches (inHg) or in millibars (1 inch = 33.864 millibars). Although new types of barometers are now used, these measures are still in place. In general, 30 inHg or 1016 millibars is considered to be normal air pressure. In normal weather, 30.5 is considered extreme high, and 28.5 is considered extreme low. The measures are taken at sea level, a higher elevation has less atmosphere above it, so a correction factor against the normal measure is needed depending on altitude.

It is believed that the effect of barometric pressure is greater in shallow water than deep, probably due to the pressure of the weight of the water in deep water being so high, that the air pressure above it is not relatively significant.

The principal theory, is that the effect of changing pressure on the swim bladders of fish makes them uncomfortable or dis-oriented. In this theory, the fish will move to feel well, or they feel bloated or full. With a lowering barometer, it is believed these fish move into deep water seeking higher water pressure and ride out the low pressure around structures. The theory suggests that just prior to change from a high to a low, fish will bite like crazy until the low hits and then stop. The difficulty with this theory, is that water is 900 times more dense than air, and generates signicantly more pressure than air. In fact,a 3 foot wave will produce a variation of pressure more significant than can be expected from a change in atmospheric pressure through a dramatic change, and the wave effect is happening every few seconds, rather than the hours or days that the atmospheric changes takes to occur.

Frankly, given that the pressure of water depth is such a significantly greater factor than the pressure of atmosphere, it seems likely that the weather conditions created by changes in barometric pressure, such as clouds, rain and wind, have more effect on fishing than the barometric pressure alone. So in the opinion of the author, barometric change is a good indicator of fishing change, but it's not because of the pressure change by itself, as much as what other weather conditions are likely to occur because of the pressure change.

The following table attempts to summarize the barometric pressure, and observations on fish activity and fishing techniques.

Pressure Trend

Typical Weather

Fish Behaviour

Suggested Fishing Tactics

High

Clear skies

Fish seek cover, look for logs, weeds in shallows. If water too warm, will stop biting.

Fish structure close to surface, with shallow crankbaits, poppers, etc..

Rising

Clearing or improving

Fish start to move out of deeper water. After a day or so, go to normal feeding.

Fish with brighter lures and near cover, moving from deeper water to shallower water.

Normal and stable

Fair

Normal activity.

Experiment with your favorite baits and lures.

Falling

Degrading

Most active feeding.

Range of different methods. Surface and shallow running lures may work well.

Slightly lower

Usually cloudy

Fish seek deeper water, with water temp maybe also slowing them down. May need to settle before feeding again.

Use deep running lures at a moderate speed.

Low

Rainy and stormy

Fish move to deeper structures, may not feed.

Fish deep structures, vary your methods.


Of course, the longer a period of high feeding activity, the more likely the fish are to stop feeding. And the longer the period of inactivity, the more likely the fish are to start feeding.

Draw your own conclusions on the effect of a changing barometric pressure on fishing activity. Whether pressure changes by themselves cause feeding changes may be in question, but the patterns seem to be there irregardless.


By David Girdwood
Manager, Thefishingnut
www.thefishingnut.com

Thursday, April 5, 2007

Pergerakan Ikan

Bisikan Laut Kepada si Penguntit Ikan
Sapto Pradityo, Ahmad Fikri
Tempo (35/XXXIV/13 - 19 Oktober 2006)


LIPI membuat pelacak ikan akustik yang jauh lebih murah, tapi tak kalah akurat dibanding satelit. Laut selalu membisikkan rahasianya kepada Tasman. Salah satu bisikannya adalah tempat para ikan berkumpul. Maka, dengan tangan kosong, Tasman bisa membawa pulang banyak ikan.

Kabar gembira, Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi berhasil menjiplak telinga nelayan di pesisir Tegal itu. Pusat riset di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu membuat peranti penguping berbasis gelombang akustik untuk membuntuti dan memetakan pergerakan ikan.

Penggagasnya adalah Dadan Muliawandana, 38 tahun. Ia yakin teknologi sangat bernilai untuk membantu nelayan. Terutama karena orang dengan kemampuan seperti Tasman kini nyaris punah.

Dulu, Tasman menangkap ikan di sepanjang perairan pantai utara Jawa, Selat Makassar, hingga Laut Cina Selatan, cuma berbekal insting. Hasilnya kerap melecehkan peralatan canggih seperti penentu posisi geografis berbasis satelit (GPS), fish finder alias penemu ikan berteknologi sonar, dan aneka peralatan lainnya. Faktanya, dia dua kali berturut-turut menyabet gelar nelayan paling produktif di pelabuhan ikan Tegal, yakni pada 1989-1990.

Tak cuma itu nilai penting teknologi ini. Di laut, siapa tak tahu bahwa nelayan Indonesia mesti berebut ikan dengan nelayan Malaysia, Thailand, hingga Taiwan. Padahal, para nelayan dari negeri jiran itu dibekali kapal berkapasitas besar dan teknologi lebih maju.

Belum lagi kondisi beberapa perairan yang ikannya sudah kelewat tereksploitasi, sehingga area perburuan ikan mesti diperluas. Walhasil, seperti diakui Tasman, nelayan perlu teknologi untuk mengetahui bagaimana pola rombongan ikan itu bermigrasi, agar pulang membawa hasil melimpah. "Sekarang tidak ada nelayan yang mau melaut kalau (penentu posisi) GPS-nya nggak jalan. Sekalipun sudah berlayar satu atau dua jam, kalau GPS-nya rusak mereka pasti kembali ke pelabuhan," ujar nelayan yang kini sudah menjadi juragan kapal itu. Padahal, GPS tidak murah.

Teknologi penguping LIPI jauh lebih murah dibanding teknologi berbasis GPS dan teknologi pelacak ikan lainnya. Salah satu alasannya, "karena tidak perlu memesan slot kanal frekuensi satelit," ujar Dadan, yang menjadi ketua tim teknologi alat ini. Pemetaan migrasi ikan dengan gelombang akustik pun memungkinkan diperoleh data lokasi setiap saat.

Ketika dijajal di Waduk Saguling, Pantai Pangandaran, dan perairan Pantai Cirebon, penguping akustik LIPI menunjukkan hasil memuaskan. Akurasinya tidak kalah dengan teknologi satelit, dengan tingkat kesalahan pembacaan alat paling besar hanya 10 meter.

Toh, Dadan masih belum puas. Dia berharap tingkat kesalahan ini dapat ditekan hingga kurang dari 1 meter. "Tapi itu sulit sekali dan sepertinya tidak mungkin," ujarnya.

Inti dari "telinga" LIPI adalah sebuah chip pemancar gelombang akustik yang ditanam di ikan yang hendak dipetakan. Chip itu berukuran satu ruas jari bayi, seberat 0,2 gram. Gelombang suara yang dipancarkan chip akan ditangkap oleh tiga hidrofon yang dipasang di pelampung. Hasilnya bakal muncul dalam bentuk lokasi ikan tiga dimensi.

Data mentah ini dipancarkan ke pusat pengolahan data, dan didapatlah peta lokasi ikan itu. Dari data-data yang terkumpul, dapat diketahui bagaimana pola pergerakan ikan jenis tersebut.

Sayangnya, alat ini tak dapat dipakai untuk semua jenis ikan komersial. Rentang jangkauan gelombang akustik tidak jauh. Chip pemancar gelombang akustik paling jauh bisa melontarkan suara hingga jarak 1 kilometer, sedangkan daya tangkap hidrofon berkisar 2 kilometer. Jelas, teknologi ini tidak mungkin digunakan untuk memetakan pola pergerakan ikan komersial dengan kemampuan jelajah tinggi, seperti tuna.

Apa boleh buat. Untuk membuntuti ikan lintas perairan seperti tuna dan hiu, solusinya adalah teknologi satelit. Inilah teknologi yang dapat dipakai memetakan migrasi ikan hampir tanpa batas, namun mahalnya tak kepalang.

Tim peneliti Universitas Stanford, Amerika Serikat, telah menggunakan teknologi satelit itu untuk memetakan pola migrasi hiu. Mereka memasang dua jenis chip pada hiu. Pertama, chip Smart Position-Only Tag (SPOT) yang ditanam pada punggung, untuk menentukan posisi hiu sepanjang waktu. Saat hiu muncul di permukaan air, chip akan mengirimkan gelombang mikro ke satelit.

Peneliti tinggal mengunduh data yang ditangkap satelit dan memantaunya dari hari ke hari. "Saya biasanya mengecek posisi hiu di pagi hari sambil minum kopi di teras rumah," ujar Barbara Block, kepala tim penelitinya.

Chip kedua, Pop-Up Satellite Archival Tag (PAT), berfungsi mengumpulkan data tekanan dan temperatur air yang dilintasi hiu. Chip kedua ini biasanya diprogram pada jangka waktu tertentu akan melepaskan diri dari badan hiu. Dari data yang dikumpulkan kedua chip ini, dapat diketahui bagaimana hiu bermigrasi.

Lewat satelit, tim Universitas Stanford berhasil membuntuti hiu selama 640 hari dan menempuh lintasan sepanjang sekitar 18.215 kilometer-hampir setengah keliling bumi. Salah satu kesimpulan yang diperoleh adalah saat bergerak ke selatan bagian bumi pada musim panas, ikan hiu menyelam di laut dalam untuk menghindari panas di permukaan air.

Agaknya, pada akhirnya teknologi LIPI dan teknologi satelit perlu bahu-membahu dalam menyediakan peta ikan karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tujuannya cuma satu: agar nelayan dapat memantau di mana, misalnya, ikan kerapu berkumpul saat musim panas. "Jadi, tidak lagi hanya bermodal naluri saat meninggalkan pelabuhan menuju laut lepas," kata Dadan.

Agar seluruh nelayan dapat memanfaatkan data pola migrasi ikan, Dadan berpikir data tersebut perlu dimasukkan ke Internet. Dengan peta pergerakan ikan di komputer dan penguping setia mengintai keadaan di bawah laut, sepertinya nelayan tinggal menunggu ikan-ikan itu lewat.

Monday, April 2, 2007

Menyelam di Sumatera Barat

Tuesday, 16 May 2006
Sumber : www.cimbuak.net


Industri pariwisata bahari di Indonesia di Indonesia akhir-akhir ini menunjukan perkembangan yang pesat. Kenyataan ini ditunjukkan oleh semua pemerintah daerah yang berusaha mengembangkan potensi daerahnya masing-masing sesuai tuntutan otonomi daerah yang seluas-luasnya. Masing-masing pemerintah daerah berusaha mengelola potensi daerahnya masing-masing baik dari segi kultur, keindahan, budaya, peninggalan sejarah, pegunungan ataupun keindahan wilayah pesisirnya.

Sumatra Barat, dalam hal pariwisata mempunyai potensi yang sangat besar sekali, obyek-obyek wisata sangat banyak dan tersebar di seluruh tanah Ranah Minang.

Salah satu dari potensi tersebut adalah dengan tersedianya obyek wisata bahari di lingkungan laut, hal ini ditunjang oleh letak Ranah Minang di bagian barat Pulau Sumetera yang memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 450 Km dengan luas perairan laut lebih dari 138.759 km, termasuk daerah ZEE, maka sangatlah wajar bila tahun-tahun terakhir ini banyak sekali mulai berkembang lokasi-lokasi wisata bahari di sepanjang pantai Sumatera Barat.

Beberapa pulau kecil yang terletak di kawasan Teluk Bungus dan Perairan Kodya Padang diantaranya Pulau Pisang Ketek, Pulau Pisang Gadang, Pulau Kasiak, Pulau Terlena, Pulau Pasumpahan dan Pulau Sirandah. Beberapa buah pulau lainnya perlahan-lahan mulai terus di benahi pengelolaannya menjadi tempat wisata bahari, seperti halnya dengan Pulau Sikuai yang telah berdiri hotel berbintang tiga, demikian juga halnya dengan Pulau Cubadak dan Pulau Cingkuak di kawasan perairan Painan Pesisir Selatan.

Meskipun perkembangan wisata bahari di Ranah Minang telah mulai cukup pesat, tapi hanya baru terbatas untuk menikmati keindahan pulau, rekreasi pantai atau wisata mancing dan mandi-mandi. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa nun jauh di dasar lautnya terdapat keindahan lain yang jauh lebih luar biasa.

1. Gosong Sinyaru

Bagi para peselam yang ada di Padang, sebutan gosong ini lebih populer dengan sebutan gosong kapal, mungkin karena pada lokasi ini ditemukan adanya bangkai kapal yang tenggelam entah beberapa tahun lalu. Lokasi ini merupakan tempat penyelaman yang sangat menarik bagi para petualang selam yang suka wreck dive dengan kedalam di bawah permukaan air sekitar 15 – 20 meter, di lokasi ini para peselam akan dapat menikmati suasana yang lain bila dibandingkan denga lokasi lain yang berterumbu karang, uniknya pada lokasi ini adalah dasar dari perairannya yang berupa rataan karang keras ( hard coral) dan tidak berpasir.

Bila melakukan penyelaman di lokasi ini, peselam akan dapat menyelam pada lorong-lorong dan puing-puing rongsokan bangkai kapal yang menciptakan suatu kenikmatan tersendiri, disamping itu peselam juga akan melihat beraneka jenis ikan karang dan ikan hias yang bersileweran dintara puing-puing kapal tersebut, bahkan bagi para peselam yang belum pernah menyaksikan ikan hiu selama melakukan penyelaman, nah.. di lokasi ini akan dapat melihatnya.

Menyaksikan ikan hiu di saat melakukan penyelaman sebenarnya melahirkan suatu kenikmatan tersendiri dan harus bisa menghilangkan opini bahwa hiu itu akan memangsa kita. Biasanya pada lokasi yang memiliki wreck dive ini harga 1 paket penyelaman lebih mahal bila dibandingkan dengan lokasi yang hanya mengandalkan keindahan terumbu karang saja.

2. Gosong Suar

Merupakan gugusan karang yang belum muncul ke permukaan, dan di lokasi ini dipasang mercu suar yang berfungsi sebagai rambu-rambu pelayaran arus lalu lintas laut. Tutupan terumbu karangnya pun hanya sampai pada kedalaman 5 meter, menjadikan lokasi ini lebih cocok hanya untuk bersnokelling, untuk melakukan penyelaman scuba kurang cocok disebabkan kejernihan air yang relatif rendah.

Pada waktu pasang terendah gosong ini mempunyai kedalam 3-6 meter dibawah permukaan air. Terumbu karang hidup ditemukan sampai pada kedalaman 12 meter dan pada bagian-bagian tertentu di temukan dasar perairan yang berupa pasir, pada rataan flat pertumbuhan karang lebih didominasi oleh karang Acropora Tabulate dan karang Acropora bercabang.

Lokasi ini cocok dijadikan tempat penyelaman scuba, karena kedalaman yang cukup serta kejernihan air relatif lebih bagus, kemudian ditumbuhi oleh keanekaragaman karang yang cukup tinggi. Bila melakukan penyelaman scuba di sini, kita harus ekstra lebih berhati-hati, karena lokasi ini merupakan sebuah gosong yang biasanya arus lebih kuat dan jangan lupa untuk mengingatkan kepada kru atau orang yang ada di atas perahu / kapal agar mereka selalu mengawasi kita dari atas kapal selama melakukan penyelaman.

3. Pulau Sirandah

Hanya sekitar 40 menit dari pelabuhan Muara Padang atai sekitar 30 menit dari TPI Bungus, kita sudah sampai kepulau ini dengan mempergunakan perahu 80 HP. Pulau ini merupakan pulau yang relatif kecil yang terletak lebih kurang 11 mill dari pusat kota Padang. Setiap harinya puluhan kapal-kapal nelayan bagan yang berasal dari kawasan Bungus lego jangkar di sekitar perairan pulau ini untuk berlindung dan menunggu hari sore untuk berangkat ketengah laut mencari ikan. Pantainya terdiri dari pasir putih halus dan landai.

Keindahan bawah lautnya dapat dilihat di sekeliling pulau yang ditumbuhi oleh karang dari Acropora bercabang, Heliopora, pada kedalaman 2-3 meter lebih didominasi oleh pertumbuhan karang-karang lunak. Pertumbuhan karang ditemukan sampai dengan kedalaman 15 meter menjadikan panorama lautnya menjadi indah untuk diselami. Lokasi ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat penyelaman scuba dan snorkelling karena didukung oleh kejernihan air dan keanekaragaman terumbu karangnya yang cukup padat.

Memancing di Laut Dalam

Wisata Bahari yang Masih Terabaikan
Kompas, Rabu, 10 Desember 2003


PERAIRAN Sulawesi kaya akan potensi. Bukan hanya potensi yang terkandung di dalam laut seperti beraneka ragam ikan, mutiara, rumput laut, dan tambang minyak, tetapi juga potensi wisatanya yang kalau digarap secara benar dan profesional akan mendatangkan devisa yang luar biasa besar.

Contoh kecil saja, pendapatan asli daerah (PAD) Kota Makassar sebanyak Rp 14 miliar berasal dari sektor wisata. Itu berarti pendapatan kedua terbesar setelah pajak bumi dan bangunan (PBB). Dan, kalau berbicara soal wisata di Kota Makassar khususnya, dan umumnya Sulawesi Selatan, tidak lain dari wisata bahari, wisata laut!

Apa yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Makassar untuk memajukan wisata bahari?

"Nothing," kata seorang penggiat wisata bahari setempat. Memang ironis apabila melihat laporan pertanggungjawaban wali kota di bidang wisata, khususnya wisata bahari. Banyak program dicantumkan seperti lomba jolloro, sandeq, namun realisasinya tidak pernah ada.

"Padahal, kalau ada perhatian pemerintah sedikit saja, wisata bahari di Kota Makassar bisa sangat maju mengingat potensi perairannya yang sangat kaya dan beragam. Memajukan wisata bahari bukan hanya menyelenggarakan lomba perahu," ujar dia lagi.

Wisata bahari lain yang sesungguhnya dapat mendatangkan devisa besar ialah menyelam (diving) dan memancing (fishing) di perairan dalam. Dan, Kota Makassar yang memiliki gugusan pulau spermonde yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, besar maupun kecil, sangat cocok untuk dieksploitasi potensi wisata baharinya.

Setiap pulau, bisa dijadikan resor sekaligus area menyelam dan memancing. Namun, yang sampai saat ini digarap cukup profesional baru Pulau Kapoposang saja. Di pulau ini terdapat empat cottage milik PT Makassar Tirta Wisata. Hampir 70 persen penikmat wisata bahari di Pulau Kapoposang ini adalah ekspatriat. Dengan 75 dollar AS per hari per orang, wisatawan bisa menyelam, memancing, dan menginap di pulau yang dikepung lautan ini.

Memang terasa ironis, untuk menyewa sebuah kapal pesiar dengan bobot 20 ton dengan ukuran panjang delapan meter-kapal yang layak menyeruak tengah lautan untuk memancing di laut dalam-itu disediakan oleh pengusaha kapal Singapura. Sewanya Rp 3 juta per hari. Lebih ironis lagi, sebuah majalah berbahasa Cina yang terbit di Malaysia edisi Juni 2003, menawarkan jasa kepada peminat dan penggemar olahraga memancing untuk wisata memancing di perairan dalam Sulawesi.

Untuk dapat memancing di Pulau Takabakang dan Pulau Marasende, misalnya, ditawarkan 1.400 ringgit Malaysia per orang per hari. Kedua pulau itu berada di Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Adapun untuk sampai ke Takabonerate, perusahaan wisata bahari Malaysia itu menawarkan harga 2.500 ringgit Malaysia. Luar biasa!

TERTANTANG ingin membuktikan bagaimana hebatnya perairan dalam Sulawesi Selatan, Kompas memenuhi ajakan Federasi Olahraga Mancing Seluruh Indonesia (Formasi) Sulsel. Bersama wartawan Suara Pembaruan, kami berangkat dari dermaga Popsa (Persatuan Olahraga Perahu Motor dan Ski Air) Makassar pada Sabtu (6/12) dini hari pukul 02.00. Tujuannya Pulau Marasende yang berjarak 90 mil laut dari dermaga. Dengan kapal Semangat I (milik pengusaha Singapura yang khusus menyewakan kapal untuk kepentingan menyelam dan memancing), waktu tempuh diperkirakan delapan jam, sebab kecepatan kapal hanya 12 knot per jam.

Di atas kapal ada sejumlah penggiat olahraga atau wisata bahari seperti Ilham Mattalatta yang gila memancing karena dia juga Ketua Formasi Sulsel, Rudi Banse yang walaupun sudah usia senja, tetapi selalu bersemangat kalau bicara soal memancing, Philip Karundeng, pengusaha minuman segar markisa yang suka memancing sekaligus menyelam.

Ada juga Hadi Basalamah yang kalau di air gila menyelam dan di darat gila olahraga berkuda, Mahendra yang senang memancing, Syahrir Mantigi yang juga maniak memancing, Chris orang Singapura pemilik kapal, Herry "Trolling", sang kapten kapal merangkap ahli memancing gaya trolling (memancing selagi kapal melaju), dan sejumlah anak buah kapal, termasuk koki.

Bulan berkuasa penuh saat Semangat I menarik jangkar, menuju perairan dalam Sulawesi. Saat dua jam perjalanan pertama, Herry sudah menyiapkan empat kail yang dipasang di bagian ekor kapal untuk memancing gaya trolling.

Rudi Banse menunggu dengan sabar di belakang kail. Saat kapal melaju, umpan berupa ikan imitasi seukuran 10 sentimeter itu seperti melompat-lompat di atas permukaan air laut. Senar yang dibentangkan bisa mencapai 200 meteran. Namun, akan sangat ketahuan bila ada ikan menyangkut, suara reel (gulungan senar) akan berbunyi "krekek-krekek". Saat itulah stick pancing yang satu set dengan reel dan harga senarnya mencapai Rp 8 juta itu harus diangkat dari pancangnya, sedang kapal harus dikurangi lajunya secara ekstrem. Hasilnya, ikan barracuda sepanjang lebih satu meter.

Philip Karundeng bercerita, olahraga memancing di perairan dalam memang olahraga mahal dan eksklusif. Lebih mahal ketimbang golf. Untuk sewa kapalnya saja, sudah Rp 3 juta per hari. Padahal, untuk sekali memancing saja minimal harus tiga hari. Meski demikian, pangsanya juga lain, yakni orang bule (wisatawan asing) dan orang kaya Indonesia.

"Orang asing itu (Malaysia dan Singapura) memanfaatkan benar potensi bahari yang kita (Indonesia) miliki, sementara kita hanya sekadar hobi. Jangan tanya ada investor kita yang mau bermain di laut untuk urusan menyelam dan memancing. Apalagi pemerintah kota yang hanya mau menerima apa adanya saja potensi wisata bahari ini tanpa mau bersusah-payah mengeksplorasinya," tutur Karundeng seusai menyelam 70 meter di Marasende.

Karundeng, Ilham, dan Hadi menjajaki dasar laut Marasende sambil membawa spear gun, tombak yang meluncur menggunakan pemantik seperti layaknya sebuah pistol. Spear gun yang buatan Amerika itu harganya 1.000 dollar AS, dan Hadi mendapatkan ikan trevally dari hasil bidikannya dengan alat itu.

Menurut Karundeng, mestinya kalau pakai tabung oksigen tidak boleh menggunakan spear gun. Menurut dia, spear gun hanya digunakan saat menyelam dengan menggunakan kacamata selam dan tanpa tabung oksigen. "Itu memang aturan scuba diving," katanya.

Saat singgah di perairan dekat Pulau Marasende, seorang penduduk lokal yang berbahasa dan beretnis Mandar, singgah dengan sampan kecilnya. Ia melengkapi diri dengan tombak tradisional, terbuat dari rotan dengan ujung bermata pisau. Sebagai tali busur dia gunakan ban bekas dengan busur rotan yang melengkung setengah bulan sabit.

Dengan peralatan sederhana itu, ia sanggup menyelam selama puluhan menit dan saat muncul tombaknya sudah menusuk seekor ikan besar. Sesaat ia "menghilang" dengan perahu kecilnya, mencari perairan yang lebih banyak ikannya dengan menggunakan nalurinya.

Mengapa untuk memancing harus pergi jauh-jauh ke Takabonerate di Takalar, Marasende atau Takabakang? Philip Karundeng mengungkapkan, perairan di Selat Makassar sudah sangat rusak akibat aksi pengeboman ikan yang dilakukan nelayan tradisional. Kalau mau panorama asri, harus ke Pulau Kapoposang atau Lajukang.

Di perairan dalam seperti di Marasende dengan kedalaman 168 meter, ikan yang diperoleh dari hasil memancing pun beraneka ragam. Sebut saja ikan trevally (ikan kue), escola, ruby snipper (kakap merah), barracouta, ikan layur, tenggiri dan bahkan tuna gigi anjing (dogtooth tuna).

Di perairan Takabakang dengan kedalaman 150 meter, ikan kakap merah yang sekali tangkap bisa mencapai 30 kilogram itu bisa dengan mudah tersangkut kail. Namun, di sini perjuangan sekaligus hobi bertualang lewat olahraga memancing tersalurkan, sebab untuk menyeret ikan kalap merah itu ke permukaan diperlukan waktu paling cepat 15 menit.

INDONESIA memang negeri yang dikenal karena keterlambatannya dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan, juga dalam mengeksplorasi potensi alam yang kelak menghasilkan devisa. Dua pulau kecil Sipadan dan Ligitan, dalam adu argumen hukum antara Indonesia versus Malaysia di Belanda misalnya, dimenangkan Malaysia gara-gara alasan sepele: Malaysia sudah menggarap kedua pulau itu dengan baik sehingga memenuhi unsur upaya konservasi alam dan lingkungan hidup yang tertata rapi.

Kalau bagi Indonesia, kedua pulau itu barangkali cuma dianggap sebagai tempat "jin buang anak", tetapi oleh Malaysia, dua pulau kecil di moncong utara Pulau Kalimantan ini bisa dipelihara dan ternyata bisa dijual. Ringgit Malaysia pun mengalir dari sektor wisata, dan lagi-lagi kita hanya bisa gigit jari. Contoh sederhana ada di depan mata kita, khususnya Pemerintah Kota Makassar atau Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. (PEPIH NUGRAHA)

Beberapa Istilah Mancing


Angler = Pemancing.

Big Game Fishing Tournament = Turnamen ikan-ikan besar, dilakukan di laut dalam dan biasanya ikan utama yang menjadi sasaran adalah jenis marlin atau layaran.

Billfish = Jenis ikan berparuh, termasuk marlin hitam, marlin biru, marlin loreng, ikan tondak, dan ikan layaran.

Black marlin = marlin hitam, setuhuk hitam, Makaira indica.

Blue Marlin = Makaira nigricans.

Drag = Rem pada ril penggulung.

Fish finder/ Depth sounder = Alat berbentuk monitor untuk mencari lokasi ikan. Depth sounder ini terdiri dari tranducer yang berfungsi sebagai sensor dan monitor yang berguna untuk menampilkan hasil gambar dasar laut.

Fishing Boat = Kapal mancing.

Formasi = Federasi Olah Raga Mancing Seluruh Indonesia, pertama didirikan tahun 1993.

GPS = Ground Positioning System, peralatan elektronik untuk mencari atau menandai koordinat suatu tempat tertentu. Biasa dipakai pemancing untuk mencari tandes ikan atau lokasi yang banyak ikannya.

Hook = Mata kail.

Hotspot = Tandes atau lokasi yang biasanya merupakan tempat berkumpulnya ikan, biasanya berbentuk karang menonjol di dasar laut.

IGFA = International Game Fish Association, organisasi mancing dunia yang berkantor pusat di Florida, Amerika Serikat.

Hook Up = Kail menancap di mulut ikan.

Kenur = Benang pancing, bisa berupa monofilamen (senar berserat tunggal) atau Braided (berserat banyak).

Konahead = Umpan tiruan menyerupai cumi-cumi, biasanya dipakai untuk memancing dengan cara menonda (trolling) untuk jenis ikan marlin atau layaran.

Leader = Kenur berkekuatan besar yang disambungkan ke kenur utama, gunanya agar lebih tahan terhadap gigi dan perlawanan ikan. Bahan yang dipakai bisa berbentuk kawat atau monofilamen.

Outrigger = Tiang penghela yang dipasang di sisi kapal, gunanya untuk merentangkan kenur agar tidak berimpitan.

Rapala = Sejenis merek umpan tiruan menyerupai ikan. Biasanya digunakan untuk umpan ikan tuna, tenggiri, atau kuwe. Memancing bisa dengan cara trolling, bisa juga dengan cara casting.

Reel = Ril, alat penggulung, bisa berbentuk spinning, spincast, baitcasting atau trolling.

Rigging = Rangkaian kail pada umpan.

Rod = Joran atau gagang pancing. Bahannya mulai dari yang tradisional seperti dari bambu sampai yang grafit.

Sailfish = ikan layaran.

Strike = Umpan disambar ikan.

Tackle = Peralatan mancing.

Tag = Label yang ditancapkan pada ikan berisi informasi nomor tag dan alamat lembaga resmi yang mengeluarkannya. Setiap nomor tag nantinya akan disertai informasi mengenai keterangan tentang spesies ikan, perkiraan panjang dan berat ikan, tanggal dan tempat ikan terpancing, nama dan alamat pemancing, serta nama kapal dan kaptennya. Informasi ini dikirim ke lembaga yang mengeluarkan tag tersebut. Program tag ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1963. Organisasi yang khusus mengelola informasi labeling ikan berparuh adalah The Billfish Foundation.

Tag & Release = Label lalu Lepas, ikan yang tertangkap hanya diberi label, lalu dilepaskan kembali. Istilah ini biasanya digunakan pada jenis-jenis ikan berparuh (billfish), walaupun tidak tertutup kemungkinan penggunaannya pada jenis ikan lain. Hal ini dilakukan untuk melindungi jenis-jenis ikan tertentu terhadap kemusnahan.

Trolling = Memancing dengan cara menarik umpan sambil kapal berjalan (menonda). Untuk di laut, ikan yang biasa dipancing dengan cara ini adalah marlin, layaran, tuna, tenggiri, kuwe, tongkol, dan ikan-ikan permukaan lainnya.

Tuna Sirip Kuning = Yellowfin Tuna/ Thunnus albacares.

Wireman = Orang yang memegang tali pandu, bertugas menarik ikan yang sudah naik ke permukaan dan mendekatkan ke pinggir kapal.

Marlin, Idaman Pemancing


Sinar Harapan, 4 April 2002
Oleh Wartawan SH
GATOT IRAWAN


PELABUHAN RATU - Ada hajatan besar pada tanggal 18-21 April lalu. Kegiatan ini jadi kebanggaaan warga setempat karena menjadi arena Turnamen Mancing Ke-5 memperebutkan Piala Presiden RI. Hadiahnya tak seberapa, tapi yang kumpul dan yang jadi peserta adalah adalah para pengusaha besar dan anggota MPR. Jumlahnya sekitar 80 orang (23 tim). Tujuh belas orang di antaranya adalah peserta asing berasal dari Amerika Serikat, Belanda, Australia, Malaysia, dan Korea.

”Walau event nasional, namun pesertanya beragam bangsa,” ujar Dadi Kartahadimadja, Sekjen Federasi Olahraga Mancing Seluruh Indonesia (Formasi). Kegiatan ini tiap tahun menjadi agenda tetap dan diadakan di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Menurutnya, turnamen ini adalah ‘”Game Fishing Tournament” yakni boleh mancing semua jenis ikan billfish (berparuh) antara lain yang top adalah marlin, juga jenis lainnya kecuali hiu dan pari. Tapi bobot minimum yang sah ditimbang adalah 10 kilogram. Kenapa hiu dan pari tak diperbolehkan dipancing, sebab jenis ini ikan pembersih. Senang makan segala sesuatu, termasuk sampah plastik Karena keberadaannya membantu secara tak langsung kebersihan lingkungan maka keduanya diharamkan untuk dipancing.

Jangan harap melihat mereka mancing dengan kapal laut yang melego jangkar. Ini, lanjut Dadi, tidak boleh. Sebab tata cara yang dipakai adalah sistem trolling, yakni pancing ditarik kapal dengan kecepatan tertentu, tanpa melego jangkar. Istilah lokal adalah ngoncer. Angka terbesar jika pemancing berhasil mendapat marlin, ikan dambaan pemancing seluruh dunia yakni 500 poin. Khusus untuk marlin, peserta tak boleh membawa pulang. Sebab yang diterapkan adalag ‘tag and release.’ Jika marlin terpancing, dia hanya diberi label dengan memakai tombak yang ujungnya ada record yang akan tertinggal di tubuhnya.

Ada isian yang kemudian dilaporkan ke International Billfish Foundation di Amerika Serikat. Di situ dicatat bobot, panjang, lokasi pancing, nama kapten dan kapal dan pemancing. Oleh yayasan itu dijadikan data base untuk mengetahui pola migrasi dan jumlah marlin. Sedang jika mendapat ikan layaran adalah 300. Nilai kelas kenur, menurut Dadi, hanya berlaku untuk semua jenis ikan lain dengan bobot minimum 10 kg.

Penghitungan nilai berdasarkan kelas kenur yakni besarnya tali pancing yang digunakan, di mana lebih kecil dan menangkap ikan besar akan bernilai lebih baik. Ini yang dipakai untuk dikalikan berat ikan. Tapi jika ada yang berhasil mengangkat marlin di atas 200 kg, bakal bergelimang uang. Sebab dia akan mendapat hadiah jackpot sebesar Rp 200 juta. Ini mirip hole in one dalam olahraga golf. Sedangkan layaran di atas 53 kg boleh diangkat untuk ditimbang tapi tak dapat nilai, namun berhak mengklaim rekor nusantara.

Jalannya Lomba

”Strike!” teriak Harry ketika reel (tabung gulungan tali pancing) berbunyi. Kapten kapal ”Thunder Bird” otomatis menambah kecepatannya agar mata kail lebih tertancap di mulut ikan. Sayangnya ketika tali mulai digulung, betotan-nya hilang. Strike adalah istilah dalam memancing bahwa umpan dimakan ikan. ”Huuh,” terdengar nada kesal Harry. Lepaslah ikan besar itu. ”Ini ikan besar yang makan tadi. Tanda-tanda bahwa yang menarik umpan itu ikan gede adalah ketika pancing digulung, bagian ujung kenur di dekat kail, permukaannya seperti bekas dikikir,” tambah Harry, sembari memperlihatkan pada seluruh kru. ”Ini yang makan tadi pasti marlin,” tegas Didi Suwandi, yakin. Sebab marlin adalah ikan bermoncong yang bergerigi.

Mungkin, lanjut suami dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Rini Suwandi itu, marlin tadi kurang pas menggigitnya dan belum sempat ditelan. Dugaan Didi, marlin itu setelah tahu bahwa yang dimakan bukan cumi tapi mainan, maka dia berusaha melepasnya. Semangat anggota tim seperti terpompa kembali. Kapal diarahkan lebih ke tengah samudera lagi. Barangkali di sana marlin lain tengah menanti. Kapal dengan kecepatan konstan 10 knot berkeliling-keliling tak jauh dari lokasi terlepasnya marlin, persisnya di sekitar Ujung Genteng, Pelabuhan Ratu.

Bukan Jaminan

Hari pertama penantian ‘Thunder Bird’ terbayar ketika pancingnya ditarik ikan. Langsung para kru sibuk setengah mati. Pancing-pancing yang tak dimakan segera digulung agar tidak beradu dengan pancing yang sedang dimakan ikan itu. Ari Sumarno, segera saja mengambil alih joran yang tampaknya menegang itu. Sementara Didi hanya menyaksikan, gerangan ikan apa yang makan pancing itu.

Setelah joran dipindah ke fishing belt (sabuk di mana di bagian depan terdapat tempat kedudukan joran untuk memudahkan pemancing menggulung tali), Ari tampak kecewa. Ternyata ikan yang terpancing itu tanpa perlawanan sama sekali. ”Wah ini sih kecil. Paling-paling wahoo (sejenis tenggiri),” ujarnya. Ternyata memang kecil dan beratnya sekitar 6 kg dan ini oleh mereka tak dilaporkan ke base camp di lantai atas Samudera Beach Hotel. ”Malu dong. Peralatan kita kan untuk mancing ikan marlin,” ujar Didi, tersenyum.

Momen yang paling berharga untuk diabadikan adalah ketika pemancing berhasil mengangkat marlin. Maka pilihan di hari kedua SH ikut ‘Andini,’ kapal terbesar yang paling mantap. Siapa tahu kelengkapannya bakal menunjang perolehan. Harapannya begitu. Dan, ternyata memang benar. Di kapal ini yang anggotanya timnya hanya Cepot, mantan pereli nasional, dan Adi Warsita, tokoh pengusaha hutan dan anggota MPR, lengkap banget.

Ada colour echo sounder, perangkat untuk mengetahui kedalaman dan keberadaan ikan. Dengan alat ini tim bisa membaca ikan yang banyak ada di mana, lewat lambang warna-warna tertentu. Tapi kelengkapan sebuah kapal tak ada hubungannya dengan perolehannya. Buktinya sejak jam 6 pagi hingga jam 16.00 biarpun sedikit pancing tim Andini tak disentuh ikan. Yang semula berharap bakal mendapat foto marlin, pupus sudah. Apa boleh buat, tapi masih ada hari esok.

Juara

Sayangnya di hari ketiga pilihan tak jatuh di kapal Andini lagi, tapi di Sea Hawk, milik Frans Van Druten, tokoh mancing yang juga Ketua Harian Formasi. Ada alasan mengapa pilihan jatuh pada sport fishing yacht milik pengusaha berdarah indo ini. Tim Petrohan itu sering memperoleh hasil. Bahkan masih di tahun ini, Karel Adam (16), putranya Frans berhasil mengangkat marlin seberat 150 kg dan memegang rekor junior nusantara.

Namun sekali lagi justru di sini sekali lagi terbukti bahwa kelengkapan bukan jaminan bakal mendapat ikan. Faktor luck juga menentukan. Seharian menunggu sampai bosan, biar sedikitpun kail tak disentuh ikan. Justru yang beruntung adalah tim Andini. Dari radio terdengar teriakan Cepot bahwa dia strike dan ternyata yang makan adalah marlin hitam, jenis marlin yang banyak terdapat di kawasan ini.

Sorenya di dermaga, Andini tiba, selain bendera Merah Putih berkibar, juga ada bendera bergambar marlin. Cepot berdiri di anjungan bersama Adi Warsita.

Tepuk tangan penonton dan peserta lain yang sudah lama menanti bersahut-sahutan. Apalagi ketika Adi memperlihatkan hasil jepretannya lewat digital. ”Selamat ya, Anda sah sebagai pemenang,” ujar Dadi. ***

Monday, February 5, 2007

FISHING

From Wikipedia, the free encyclopedia

'''Fishing''' is the activity of hunting for fish by hooking, trapping, or gathering animals not classifiable as insects which breathe in water or pass their lives in water. By extension, the term fishing is applied to pursuing other aquatic animals such as various types of shellfish, squid, octopus, turtle|turtles, Edible frog|frogs, and some edible marine invertebrates. The term ''fishing'' is not usually applied to pursuing aquatic mammals such as whales, where the term "[whaling" is more appropriate. Fishing is an ancient and worldwide practice with various techniques and traditions and it has been transformed by modern technological developments. In addition to providing food through harvesting fish, modern fishing is both a recreational and professional sport.

Shared Item